oleh

Sepenggal Kisah Penulis Epos dan Karya Sastra I Lagaligo

Foto : Patung Colliq Pujie Penulis Karya Sastra I Lagaligo.

Soppeng-www.sulawesiekspress.com

Sabtu 22 Desember 2018

Festival Budaya dan Seminar Internasional Lagaligo III tahun 2018 yang dilaksanakan di Kota Watansoppeng Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah suatu moment Internasional yang begitu besar peranannya dalam mengangkat epos dan karya Sastra anak Negeri Ini khususnya Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya.

Keberadaan Epos dan Karya Sastra ini tak banyak di ketahui oleh kalangan generasi penerus bangsa ini.Kisah Lagaligo ini memiliki sebuah kisah yang mendunia epos dan Karya sastra terpanjang di dunia mengalahkan Kisah Mahabarata dari Negeri Hindustani India,tercatat dalam memory of the world.Karya Sastra I Lagaligo ini terancam punah sehingga perlu diperjuangkan agar tidak punah.

Dalam catatan katalog ilmuwan Belanda R.A Kern, naskah I La Galigo terdiri dari 113 naskah terpisah. Seluruhnya mencapai 31.500 halaman. R.A Kern menyaring dan membuat ringkasan menjadi 1356 halaman. Pada abad ke 19, seorang perempuan raja Bugis, I Colli Puji’e Arung Tanete, menuliskan kembali sepertiga dari keseluruhan pokok cerita I La Galigo setebal 2851 halaman berukuran polio.

Epos Karya Sastra Lagaligo ini memiliki keaslian tulisan berbahasa Bugis dengan menggunakan Daun Lontar yang di kenal dengan nama Lontara yang tersimpan di Universitas Leiden Belanda (Netherland) dimana kisah ini di tulis oleh Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae. Namanya amat khas Bugis (dan sulit dibaca, hehe).

Retna Kencana Colliq Pujie (‘Pucuk yang terpuji’) ialah nama kecil yang menjadi panggilannya, sedangkan Arung Pancana Toa ‘Raja Pancana Tua’ adalah sebuah gelar. Matinroe ri Tucae ‘yang tidur di Tucae’ merupakan nama anumerta yang disematkan oleh orang-orang setelah Ia “ditidurkan” oleh Yang Maha Esa (Wafat).

Colliq Pujie adalah wanita bangsawan berdarah Bugis-Melayu. Ketika banyak perempuan (bahkan dari kalangan aristokrat) lain di Indonesia yang tidak mendapatkan akses ke pendidikan, Colliq Pujie tumbuh menjadi seorang cendekiawati yang penuh kreatifitas. Ia cerdas dan dikaruniai dengan banyak kemampuan.

Bahasa dan sastra Bugis merupakan keahliannya. Ia mengerti bahasa La Galigo yang pada zamannya pun sudah tidak dituturkan lagi. Dalam urusan kerajaan, dia diberi amanat tulis-menulis surat resmi untuk ayahnya, La Rumpang, raja di Tanete. Aktifitas kerajaan lebih banyak dikontrol oleh Colliq Pujie sebab ayahnya hampir tidak pernah tinggal di istana karena diintimidasi oleh Belanda. Sampai-sampai Ia digelari Datu Tanete karena memainkan peranan utama di kerajaan.

Penikahannya dengan La Tanampareq (To Apatorang Arung Ujung) menganugerahinya tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anaknya yang laki-laki bernama La Makkawaru, dan yang perempuan bernama Siti Aisyah We Tenriolle dan I Gading. Pada tahun 1852, suaminya meninggal dunia. Ia menetap di Tanete bersama ayahnya.

Pertemuannya dengan Matthes diawali dengan keinginan Matthes untuk mempelajari bahasa Bugis yang menurutnya lebih susah dari bahasa Makassar. Tahun 1852, Matthes yang tinggal di Makassar mengunjungi daerah-daerah Bugis, seperti Maros, Pangkajene, dan Tanete. Di Tanete dia berkenalan dengan Colliq Pujie. Tidak banyak yang mereka bicarakan pada pertemuan pertama tersebut. Matthes pun kembali ke Makassar.

Tahun 1855, La Rumpang, ayah Colliq Pujie, meninggal dunia. Dia digantikan oleh We Tenriolle, putri Colliq Pujie, yang kemudian dilantik sebagai Datu Tanete. Pewarisan tahta kepada putri Colliq Pujie adalah permintaan pribadi La Rumpang sebab dia tidak ingin tahtanya jatuh kepada La Makkawaru, putra Colliq Pujie, yang memiliki tingkah laku yang buruk. Selang dua tahun, terjadi pertengkaran antara Datu Tanete dan anggota keluarganya, termasuk ibunya. Hal ini terjadi karena ternyata putri Colliq Pujie tersebut bekerja sama dengan Belanda. Colliq Pujie yang notabene merupakan penentang kuat kekuasaan Belanda sangat marah dan melakukan perlawanan. Khawatir akan pengaruh dan kharisma Colliq Pujie yang begitu kuat, Belanda akhirnya mengucilkannya ke Makassar dengan uang tunjangan seadanya.

Sejak saat itu, Colliq Pujie menetap di Makassar hingga pada tahun 1859 dia diizinkan kembali ke Tanete atas permintaan putrinya. Selama di Makassar itulah dia membantu Matthes dalam menyalin naskah La Galigo. Matthes berhasil mengumpulkan cukup banyak naskah La Galigo dari hasil perjalanannya ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Beberapa ada yang dipinjamnya, beberapa ada yang diberikan sukarela, dan beberapa ada yang disalinnya sendiri karena empunya tidak ingin meminjamkan atau memberikan. Colliq Pujie pun turut membantu dengan pengetahuannya tentang bahasa dan sastra Bugis.

Kerja sama antara Colliq Pujie dan Matthes berlangsung selama 20 tahun. Ya, 20 tahun! Kebayang kan betapa banyak dan panjangnya naskah La Galigo yang harus disalin Colliq Pujie ke atas kertas. Bahkan sebenarnya, diperkirakan itu baru 1/3 dari keseluruhan naskah La Galigo. Banyak naskah La Galigo yang tidak sempat disalin ke atas kertas karena hilang atau rusak.

Betapa besar jasa Colliq Pujie dalam epos Karya Sastra I Lagaligo namun sayangnya dari kita sedikit sekali yang paham dan mengerti tentang I Lagligo ini,sehingga Festival Budaya dan Seminar Lagaligo III tahun 2018 ini adalah merupakan momentum besar buat masyarakat Soppeng khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya dan anak Negeri Ini Indonesia.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi referensi kita untuk mengetahui dan memahami siapa dan bagaimana hidup Colliq Pujie seorang Wanita Perkasa penulis Epos dan Karya Sastra I Lagaligo.

Menurut Naskah NBG 188 yang Disusun oleh Arung Pancana Toa Jilid I. Jakarta : Penerbit Djambatan 1995. Transkripsi dan Terjemahan: Muhammad Salim, Fachruddin AE dengan bantuan Nurhayati Rahman Redaksi: Sirtjo Koolhof, Roger Tol.

(Salam Redaksi)

BACA BERITA LAINNYA :