oleh

Kades Poni-Poniki Kolaka Timur Arogan, Bupati di Minta Tegas

Foto : Suasana Yasiinan Ibu-Ibu di Desa Poni-Poniki.(Doc.Red**/Arto Palay)

Tirawuta – Kolaka Timur (Sultra)
www.sulawesiekspress.com
Jum’at  8  Februari 2019
Reporter : Arto Palay

Sifat Arogan yang melekat pada diri Aryanto Ardjun Kepala Desa Poni-Poniki sangat tidak patut untuk mencontohi masyarakat apalagi dalam hal menyangkut keagamaan.

Seorang pemimpin yang seharusnya jadi suri tauladan bagi masyarakat namun malah berbuat sebaliknya dan justru di duga memanfaatkan jabatannya sebagai Kepala Desa untuk melakukan hal yang tidak patut dilakukan oleh seorang pemimpin.

Aryanto Ardjun mengecam keras aparat desanya agar tidak mengikuti acara memimpin kegiatan pengajian yang diselenggarakan secara bergiliran setiap hari Kamis sore oleh para Ibu-ibu.

Menurut sumber (8/2/19) yang tidak mau disebutkan namanya kejadian tersebut berawal dari salah seorang aparat desanya Rinto Masrin yang memimpin acara Yasinan dirumah kediaman Bapak Sabarudin (7/2/19),pada keesokan harinya (8/2/19) Rinto Masrin tiba-tiba mendapat panggilan dari Aryanto Ardjun, yang ternyata malah terkesan mengancam Rinto Masrin, “Mana yang kamu pilih , masih melanjutkan pimpin acara Yasiinan itu atau bagaimana, kamu pikir-pikir saja” ancamnya.

Kata-kata yang dilontarkan Aryanto Ardjun yang berbau ancaman kepada Rinto Masrin sungguh sangat tidak profesional untuk seorang Kepala Desa apalagi larangan Aryanto Ardjun dalam hal menjalankan acara keagamaan, yang lebih anehnya acara Arisan Keagamaan tersebut dikait-kaitkan dengan politik.

Menurut Aryanto Ardjun acara tersebut adalah suatu konspirasi untuk tidak mau bersatu dan mendukungnya.

Ditempat terpisah salah seorang tokoh masyarakat Junar menanggapi pernyataannya Aryanto Ardjun ” Dia (Aryanto-red) itu seharusnya sadar, kita ini masih solid untuk tidak mendukung dia, bagaimana kita mau dukung Kepala Desa yang tidak punya program, lagipula kan dia sudah tau, kita sudah melayangkan surat Pernyataan sikap kepada Bupati untuk tidak menerima dia sebagai Kepala Desa jadi jangan berpikir untuk bisa bergabung kembali sama dia, sampai kapanpun,”jelasnya.

Lanjut dia, Sudah cukup desa Poni-Poniki ini dia pimpin, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apalagi dengan kejadian yang baru ini, masa acara pengajian dikait-kaitkan dengan politik,” ungkapnya dengan kesal.

Masih menurut Junar, hal seperti ini yang seharusnya ditanggapi serius oleh pihak pemerintah , pemerintah tidak bisa tinggal diam khususnya Bupati Kolaka Timur karena ini telah menyangkut keagamaan, jika dibiar-biarkan justru akan berpengaruh dalam kemajuan suatu daerah bahkan dikhawatirkan akan menjadi perpecahan antar keluarga,tegasnya.

Dengan adanya kejadian ini diharapkan kepada pihak pemerintah kabupaten Kolaka Timur agar menanggapi masalah ini jangan sampai kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan terciderai hanya oleh satu orang saja.

Publizher/Redaksi : Andi Jumawi

 

BACA BERITA LAINNYA :